Welcome To My Imajination

Selamat Datang di Dunia 3Dimensi
Terima Kasih Sudah Berkunjung Saya berharap Blog ini bisa tampil lebih baik lagi tentunya harapan itu merupakan harapan kita semua.. karna itu saya butuh Masukan, Kritikan dan Saran dari teman-teman semua untuk memaksimalkan isi blog ini, sekali lagi Selamat Berkunjung semoga blog ini bermanfaat bagi anda...
@ Creat: By Abank.

Kamis, 19 Juli 2012

GRHA KREASI GEOMETRI

GARASI

Arti kata 
GRHA KREASI GEOMETRI
1. GRHA
Rumah/Gedung atau bangunan tempat tinggal
2. KREASI 
Hasil daya cipta; hasil daya khayal (penyair, komponis, pelukis, dsb): lukisan Monalisa merupakan -- besar Leonardo da Vinci; 2 ciptaan buah pikiran atau kecerdasan akal manusia; 
ber·kre·a·si v menghasilkan sesuatu sbg hasil buah pikiran; mencipta
3. GEOMETRI 
Cabang matematika yg menerangkan sifat-sifat garis, sudut, bidang, dan ruang;/ilmu ukur


GRHA atau GRAHA..?


GARASI
binagraha.jpg

Bahasa yang dipergunakan oleh Bangsa ini ialah Bahasa Indonesia. Dalam perjalanannya Bahasa Indonesia menyerap berbagai kata atau idiom dari bahasa lain. Hal ini sah-sah saja, sepanjang penggunaannya efektif dan tidak rancu. Ambil contoh kata-kata berikut ini: Komputer (diambil dari Computer, Bahasa Inggris), Taplak (diambil dati Tapelaken, Bahasa Belanda), Koran (Qur’an, Arab, artinya bacaan), dan lainnya. “H”. Akan tetapi kemudian oleh sebagian orang “dipelesetkan” menjadi “Graha”, yang ‘sialnya’, justeru malah menjadi kosa kata yang umum dan biasa dijumpai di Indonesia. Kata “Graha” banyak kita jumpai penggunaannya di negara ini, umumnya digunakan untuk nama bangunan, tempat atau suatu perusahaan. Seperti contoh Artha Graha, Graha Ubud, Graha Resor, Satya Graha dan sebagainya.

percaya boleh tidak. 

Arti yang sesungguhnya “Graha” bukan “papan” atau “suatu tempat tinggal untuk ditempati” tetapi arti sesungguhnya ialah BUAYA.


Hal yang wajar ialah bila pronounciation dari kata yang diserap tersebut kemudian dibakukan agar menjadi mudah. Seperti huruf “C” pada Computer kemudian berubah menjadi “K” pada Komputer, yang akhirnya dibakukan menjadi kosa kaat Indonesia. Tapi ada juga penyerapannya dari bahasa lain, yang selain salah malah semakin bertambah rancu saja artinya.

Ambil contoh kata “Graha”. Graha ‘dianggap’ diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya Rumah atau lebih tepatnya, “suatu bangunan untuk ditempati.” tap apakah benar demikian? Sesungguhnya kata yang benar untuk arti tersebut ialah “Grha” bukan “Graha”; jadi tanpa huruf “A” diantara konsonan “R” dan
Tetapi ada juga yang menyadari bahwa penggunaan yang benar ialah “Grha” seperti: Grha SCTV, Grhapari (semua Kantor Cabang milik telkomsel memakai kata Grhapari), Grha Widya Maranatha, Gra-C
Inilah satu kesalahan fatal dari sistem pendidikan di negeri ini. Kesalahan yang SEPELE tapi FATAL ini dibiarkan dan malah dilestarikan. Jadi anda sekarang bisa menjelaskan arti sesungguhnya dari BINA GRAHA, kantor resmi tempat sang Presiden bekerja di negeri ini, milik kebanggaan orang Indonesia. Dari sinilah, negara ini diatur, negara ini dikendalikan. Jadi ada sebagian orang yang mengganggap, jangan salahkam Tuhan kalau akhirnya memang negara ini “dikutuk” karena membiarkan negara ini dikendalikan oleh “Graha” tadi.

Seperti yang saya katakan sebelum-sebelumnya dimilis cfbe ini, negara ini sudah dari awalnya salah menerapkan sistem pendidikan di negara ini. Jadi jangan heran kalau negara ini akhirnya terpuruk terus.[daphne]

Multimedia dan lain sebagainya. Sesungguhnya apakah arti yang sebenarnya dari “Graha”? Anda boleh



Selasa, 17 Juli 2012

Gunung Padang, Truly Extraordinary

GARASI
Gunung Padang adalah sebuah struktur punden berundak raksasa yang menutup lereng-lereng bukitnya dan dibuat dengan desain arsitektur kontruksi yang advance. "Ini setara dengan kontruksi bangunan Michu-Pichu di Peru," kata anggota Tim Terpadu Riset Mandiri Boediorto Ontowirjo, dalam siaran persnya, baru-baru ini.

Setelah melakukan riset, lanjut Boediarto, tim menyimpulkan tidak benar jika situs Gunung Padang hanya dianggap berada di atas bukit. Hasil survei dengan metode geolistrik, georadar, dan geomagnet menunjukkan ada geometri kontruksi bangunan di bawah situs Gunung Padang.

Menurut Boediarto, bangunan itu paling tidak menempati sekitar 15 meter bagian puncaknya. Sedangkan bangunan di bawah teras-teras Gunung Padang kelihatan mempunyai chamber-chamber besar (ditunjukkan oleh struktur veryhigh resistivity dari hasil survei geolistrik).

"Bagian kecil dari salah satu chamber yang berada di teras lima (bagian selatan Situs) ini sudah dibuktikan dengan pemboran. Ternyata memang benar sebuah rongga, tapi diisi oleh pasir (dengan butiran seragam), sepertinya untuk menyimpan sesuatu," ujar Boediarto.

Perkiraan umur Situs Gunung Padang di lapisan paling atas secara arkeologi (berdasarkan kesamaan bentuk artefak) diduga sekitar 2.800 SM. Dari penentuan umur absolut berdasarkan analisa carbon radiometricdating umur sampel serpihan karbon di bawah lapisan atas situs pada kedalaman 3-4 meter didapat umur maksimum (paling tua) 4.500 SM. Dengan kata lain perkiraan umur dari bangunan di lapisan atas adalah sekitar 2.800-4.500 SM.

Boediarto menambahkan, bangunan di bawah permukaan situs diduga kuat merupakan bangunan yang lebih tua. Soalnya hasil penentuan umur carbon radiometricdating dari sampel serpihan karbon yang terdapat pada pasir di rongga yang di-bor di Teras 5 tersebut, yaitu pada kedalaman antara 8-10 meter menunjukkan umur (maksimum) sekitar 10.500 SM.

Umur ini memang belum bisa dipastikan umur bangunannya karena bisa saja merupakan umur dari material pasir-nya itu (yang di bawah dari tempat lain). Tapi paling tidak umur ini sudah membuktikan bahwa lapisan batuan-tanah sampai kedalaman 15 meter adalah sebuah konstruksi bangunan bukan lapisan batuan alamiah (yang seharusnya berumur jutaan tahun berdasarkan data geologi di wilayah ini).

Menurut Boediarto, target ke depan tim akan melakukan analisis penentuan umur lapisan dan pemeriksaan lab dari materialnya. Termasuk untuk memastikan apakah situs Gunung Padang dan bangunan di bawahnya itu merupakan produk satu peradaban atau lebih dari satu peradaban yang kurun waktunya berbeda.

Target lain adalah melakukan survei analisis lanjutan untuk memvisualisasikan lebih jelas lagi arsitektur bangunannya, termasuk chamber-chamber yang ada di dalamnya dan juga melanjutkan membuka akses masuk.

Lalu mengeksplorasi lebih luas dan dalam lagi struktur bukit Gunung Padang karena berdasarkan survei pencitraan bawah permukaan yang sudah dilakukan ada indikasi bahwa struktur bangunan tidak terbatas hanya setinggi 15 meteran di bagian atasnya saja. Tapi sampai setinggi 100 meteran ke bawahnya (sampai level parkir-pintu masuk) atau bahkan sampai 300 meteran ke Level Sungai Cimanggu. 

"Hal ini memang masih perlu survei yang lebih komprehensif, tapi kalau ternyata hal ini benar maka merupakan sesuatu yang "truly extraordinary," kata Boediarto.

Singkatnya, Situs Gunung Padang bukanlah produk artefak dari masyarakat purba yang masih primitif. Tapi merupakan produk dari peradaban tinggi atau merupakan bukti nyata Mahakarya Arsitektur dari zaman prasejarah Nusantara. "Jadi Gunung Padang dapat menjadi icon dan titik tolak untuk membuka lebih banyak lagi jejak peradaban nusantara yang gemilang di masa purba," tutup Boediarto.(ULF)

Senin, 09 Juli 2012

GARASI

Design balok beton bertulang

Alhamdulillah, saya ucapkan kepada Allah SWT dan junjungan nabi besarnya Muhammad saw, saya telah mendapatkan ilmu ini, dari dosen saya Ir. H. Sumirin MS, dan kandidat doktor, terima kasih banyak saya haturkan pada beliau melalui blog saya ini, karena beliau menurut saya adalah salah satu dosen yang cerdas dan juga cerdas dalam transfer ilmu kepada mahasiswanya. matur nuwun pak dosen, sip kita mulai design balok beton bertulangnya. ,
b = lebar balok (cm)
h = tinggi balok (cm)
d = tinggi efektif balok (dari atas sampai titik berat tulangan bawah)
notasi “d” atau tinggi efektif umumnya adalah 0,9 h
As = luas tulangan tarik (cm2)
T = gaya tarik tulangan = As . fy
Cc = Gaya tekan beton = 0,85 . fc’ . b.d
a = tinggi blok tegangan beton
Rumus perhitungannya ada dibawah, 
kalo yang baru lihat pertama rumus di atas pasti membingungkan, tapi yang sudah pernah lihat dan mendesign pasti sudah nggak asing lagi, memang saya tidak sepandai dosen saya dalam menyampaikan, mungkin kita bisa langsung dalam contoh soalnya saja ya . . :)
Pertama-tama Cari Momen maksimal dulu la ditengah bentangnya ., q = 1000 kgcm  dikalikan bentang 40 cm. = 40000 kgcm . jadi Q = 40000 kg.
Reaksi A dan B adalah 20000 kg atau 20 ton. jadi Mmax = 20000.20 – 20000.10 = 20000 kgcm.
atau bila langsung dengan rumus, 1/8*q*L^2 = 200000 kgcm
ini adalah luas tampang besi dari bermacam2 diameter, dari rumus 1/4*3,14*D^2 , yang sudah dihitung dengan menggunakan excel.,
lalu perhitungan dengan menggunakan rumus diatas saya gunakan excel hingga bertemu dengan jumlah tulangan yang diperlukan, pada bagian terakhir luas tulangan tarik (As) dibagi dengan luas tampang besi yang akan digunakan, sehingga kebutuhan untuk besi tulangan 8,10,12 dan 16 akan berbeda2., silahkan mencoba :)
NB = rumus omega (ω) itu sebenarnya = 1- (1-2Rn)^0.5

LEBAR EFEKTIF SAYAP

GARASI

LEBAR EFEKTIF SAYAP
Pada saat balok menahan beban, tidak semua bagian pelat yang berada diatasnya berdeformasi. Semakin jauh pelat dari sumbu balok semakin kecil konstruksi pelat itu mempengaruhi deformasi balok yang dihasilkan. SNI 2002 pasal 10, 10 mengatur besaran bagian pelat yang dapat diambil sebagai bagian dari balok (atau lebih dikenal dengan lebar efektiv pelat), yaitu :
  1. Lebar efektiv pelat lantai adalah ≤ 1/4 bentang balok
  2. Lebar efektiv pelat yang diukur dari masing-masing tepi badan balok tidak boleh melebihi nilai terkecil dari :
  • 8 kali tebal pelat
  • 1/2 jarak bersih antara badan – badan yang bersebelahan
Untuk balok dengan pelat hanya pada satu sisinya saja (balok eksterior), lebar sayap efektiv diukur dari sisi balok tidak boleh melebihi dari :
  • 1/12 panjang batang balok
  • 6 kali tebal pelat
  • 1/2 jarak bersih antara badan-badan balok yang berdekatan
ANALISIS BALOK “T”
Pada umumnya, zona tekan balok “T” berbentuk persegi seperti terlihat pada gambar 4.2b (diatas). Untuk kasus seperti ini, balok “T” tersebut dapat dianalisa sebagai balok persegi dengan lebar “b”. Untk kasus dimana zona tekan berbentuk “T” seperti pada gambar 4.2d (diatas) analisis dapat dilakukan dengan memperhitungkan secara terpisah kontribusi sayap dan badan penampang dalam menahan momen. (gambar dibawah)
 
Analisis dilakukan secara terpisah sebagai berikut :
BALOK SAYAP
Luas zona tekan = (b – bw) hf
Gaya tekan Cf = 0,85. fc’. (b – bw) hf
Syarat keseimbangan , Tf = Cf
Sehingga dengan asumsi fs = fy maka :
Asf. fy = 0,85. fc’. (b-bw) hf
sehingga Asf dapat dicari dari persamaan di atas
Lengan momen = (d-hf/2)
Mnf = 0,85. fc’. (b-bw) hf (d-hf/2)
atau, Mnf = Asf. fy (d-hf/2)
BALOK BADAN
Luas tulangan tarik badan –>  Asw = As – Asf
Gaya tekan , Cw = 0,85. fc’. bw. a
Syarat keseimbangan –> Cw = Tw = Asw . fy
sehingga, a = Asw.fy / 0,85. fc’. bw
Lengan momennya adalah (d-a/2), sehingga :
Mnw = 0,85. fc’. bw. a (d-a/2),  atau
Mnw = Asw. fy (d-a/2)
Maka Momen pada balok T adalah  =  Momen pada balok sayap + Momen pada balok badan
Momen balok T = Mnf + Mnw
PERHITUNGAN APAKAH fs=fy
Pada langkah analisis di depan, fs diasumsikan = fy (tulangan leleh). Asusmsi ini harus dicek, seperti yang pernah dijelaskan pada bab sebelumnya, dengan membandingkan nilai (a/d) hasil perhitungan terhadap nilai(ab/d) yaitu
ab/d  =  β1.  (600/600+fy)
Jika a/d  ≤  ab/d  , , , maka fs = fy
BATASAN TULANGAN MAXIMUM UNTUK BALOK T
Untuk menjamin perilaku yang daktail, SNI 2002 pasal 12.3 butir 3 mensyaratkan :
ρ ≤ 0,75 ρb
Untuk balok T yang berperilaku seperti balok persegi, perhitungan ρb dapat dihitung menggunakan rumus yang diberikan pada bab sebelumnya. Jika zona kompresi pada balok T berbentuk “T” maka perlu dihitung luas tarik yang berhubungan dengan keruntuhan seimbang (balanced), yaitu :
Asb = Cb/fy  –> Cb = 0,85.fc’. [(b-bw)hf+bw.a]
sehingga, A max ≤ Asb
TULANGAN MINIMUM BALOK T
SNI 2002 pasal 12.5 butir 2 mensyaratkan batasan tulangan minimum untuk balok T yaitu
Asmin = (√f’c / 2.fy) bw.d
atau
Asmin = (√f’c / 4.fy) bf.d
Rujukan : Bahan Ajar Struktur berton Dr.Ir Antonius, MT (Dosen Unissula Semarang)

DAMPAK DARI PERKEMBANGAN ARSITEKTUR

GARASI

DAMPAK DARI PERKEMBANGAN ARSITEKTUR
MELIHAT kenyataan yang ada pada saat ini, terasa sangat sukar untuk menentukan jalan yang terbaik bagi perkembangan arsitektur. Begitu hebatnya arsitektur, meluncur secara cepat dengan gaya dan bentuk-bentuk barunya, mencoba menerjang arsitektur yang ada di negara kita. Sebaliknya, para arsitek kita (tidak semuanya) mencoba mengangkat dirinya sejajar arsitek besar semacam Le Corbusier, Frank Llyod Wright, Mies van der Rohe, dan sebagainya.

Usaha untuk mencari identitas nasional saat ini mulai berkembang, tidak hanya pada masalah kepribadian manusia tetapi juga arsitektur bangunannya. Bahkan Gubernur Jawa Tengah Ismail pada waktu itu, memerintahkan agar atap Rumah Sakit Prof. Margono Sukardjo di Purwokerto diubah atapnya menjadi atap joglo, sedangkan bangunan itu mempunyai gaya arsitektur Yunani, sungguh berani kebijakan Gubernur tersebut (Tempo 1 September 1984). Pada hal permasalahan yang nampak di sini adalah masalah arsitektur bukan masalah sosial dan kepribadian lagi, tapi karakter yang nantinya akan selalu dibawa oleh bangunan itu sesuai dengan bentuk dan fungsinya. Perancangan bangunan saat ini bukan memodernisir arsitektur, arsitektur adalah pemecah masalah. Di samping itu, juga ada unsur-unsur bentuk, pola, gaya, karakter, filosofi, dan sebagainya. 

Bangunan-bangunan perumahan atau perkantoran yang menggunakan unsur-unsur arsitektur Spanyol dan Yunani, gejalanya sudah sampai pada tingkat memprihatinkan. Perkembangan dan perubahan yang menyangkut selera arsitektur itu pada gilirannya akan mempengaruhi suasana lingkungan hidup serta mengubah perilaku masyarakat sekitarnya, kata Prof. Dr. Ir. Parmono Atmadi (Kompas 22 September 1984).Pada umumnya para arsitek kurang sekali dengan memperhatikan pengembangan konsep perancangan, di dalam menyelesaikan hasil rancangannya. Karakter atau sifat suatu bangunan akan memberikan dampak pada perkembangan dan pola hidup kebutuhan manusia dan lingkungannya, dari sinilah kita dituntut untu dapat menguasai atau mengerti masalah lingkungan. 

Bukan hanya bangunan-bangunan yang membuat loncatan-loncatan jauh, rumah-rumah tinggalpun juga mengalami revolusi. Berbagai gerakan telah membangun konsepsi terbarunya bagi kehidupan di dalam rumah tinggal, dengan terlebih dahulu menafsirkan gaya hidup modern. Ada diktum Le Corbusier berbunyi: “rumah tinggal adalah mesin”, mesin yang dimaksud oleh arsitek ini adalah, peralatan rumah tangga yang dapat untuk mengefisienkan kerja. 

Kalau kita lihat sejenak akan perkembangan arsitektur di Indonesia dewasa ini, maka sudah banyak bermunculan bangunan dengan corak dan ragamnya. Bentuk-bentuk spanyolan dengan kolom-kolom korintian bermunculan di kota-kota besar dan pelosok-pelosok desa, bahkan rumah-rumah BTN-pun yang mungkin masa pembayarannya belum lunas dirombak besar-besaran untuk diganti dengan model spanyolan. Sebagian besar bentuk spanyolan masih berfungsi dalam pengertian yang tidak lengkap, mungkin kita bisa bertanya dalam hati, dari mana jalurnya? 


Belum terlihat adanya penafsiran tentang ruang hidup dalam sebuah rumah tinggal, pada umumnya memang sulit karena tidak meratanya kebiasaan hidup pada masyarakat Indonesia. Di kota-kota besar, sejumlah rumah sudah mengikuti konsep Corbusier, namun kadang-kadang masih juga terganggu oleh kebiasaan-kebiasaan yang tidak biasa diterapkan di situ. Paling parah dari arsitektur rumah tinggal ini adalah caranya berkembang dan pertumbuhan coraknya. Hampir semua arsitek mengeluh karena tempatnya tidak karuan, bentuknya yang campur aduk. 

Pembaruan dari konsep perancangan bukan berarti pembauran komponen bangunan yang hanya mengambil komponen dari berbagai macam langgam lain, maka akan menjurus pada “arsitektur eklektis”. Penggunaan kolom Yunani jendela spanyolan yang sudah melanda masyarakat saat ini merupakan petunjuk yang nyata. Seharusnya bangunan untuk rumah tinggal dibangun sesuai dengan bagaimana manusia dapat hidup lebih nyaman, seperti yang dikatakan Frank Lloyd Wright dalam (The Future of Architecture, Horizon Press, Inc. 1970), rumah dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia agar bisa hidup lebih bahagia dan rumah merupakan kebutuhan yang utama dari suatu keluarga. Jadi bukan diciptakan suatu bangunan untuk merusak manusia, dalam lingkup yang lebih luas lagi pola hidup, tingkah laku dan kenikmatan hidup manusia menentukan ungkapan arsitekturnya. Menurut Eugene Raskin, manusia merasa adanya suatu keharusan untuk selalu membangun yang lebih baik. Mengingat arsitektur adalah cermin masyarakat, maka masalah arsitektur yang terbanyak adalah masalah sosial dan lainnya baru menyangkut masalah teknis. Tapi kenyataannya justru makin tidak teratur, karena terlalu banyak masalah engineering yang ditonjolkan dari masalah sosial yang terdapat di dalam masyarakat. 

Bila arsitektur diterangkan asal mulanya dari pangkal-pangkal yang saling bertentangan satu sama lainnya, maka tidak satupun manusia akan heran, karena saat ini terdapat pendapat yang sangat berlainan mengenai tujuan arsitektur. Tujuan menciptakan bangunan adalah usaha manusia untuk meluruskan keadaan di sekeliling dengan pandangan hidupnya, dari menetapkan tujuan yang tiada berubah untuk arsitektur. Dengan demikian, tujuan sangat terikat pada faktor manusianya yang selalu berubah-ubah setiap saat. Arsitektur haruslah selalu bisa untuk dikembangkan atas dasar dari pengembangan masa lalu, dibangun waktu ini dalah untuk menghadapi hari depan, demikian menurut Mario Salvadori. Secara umum arsitektur justru akan mencakup masalah yang luas dan kompleks, menurut para ahli arsitektur dapat memberikan petunjuk mengenai cara hidup, tingkat perkembangan sosial, ekonomi, budaya, dan kepercayaan suatu jaman tertentu. Perkembangan arsitektur tidak hanya tergantung pada kemampuan para arsitek tetapi juga lebih banyak tergantung dari tanggapan dan apresiasi masyarakat. Seperti apa yang dikatakan William Wayne Caudill dalam (Architecture by Team, Van Nostrad Reihold 1971), “Bentuk dan raung adalah bukan arsitektur, arsitektur terjadi apabila seseorang sedang menikmati bentuk dan ruang tersebut”. Masyarakat di sini sangat dituntut untuk ikut berperan dalam perkembangan arsitektur, maka pembinaan pengertian serta penghayatan akan pentingnya peran arsitek di dalam pembinaan bangsa perlu mendapat perhatian khusus oleh masyarakat. Tetapi kenyataan yang nampak pada saat ini, yaitu melebarnya perbedaan antara arsitek, pemerintah dan masyarakat cenderung mengemukakan kebijaksanaan yang bersimpangan secara telak dengan idealisme para arsitek. Menurut Prof. VR. Van Romondt mengatakan, sangat disayangkan bahwa arsitektur bagi kebanyakan orang di Indonesia telah menjadi pengertian uyang tanpa isi. Mereka hanya mengenal luarnya, melihat sebagai dinding muka yang indah bagi sekumpulan ruang di dalam suatu bangunan. Sebagaimana manusia bahkan tidak lagi insaf, bahwa tiap ruang mengandung buah pikiran, dan bahwa ukuran, perbandingan serta cara untuk mengisi dan memberi penerangan justru akan memberikan banyak ragam. Nampaknya, arsitektur kehilangan perasaan untuk keindahan yang mungkin menjadi akibat dari penentuan pribadi yang murni. 

Demikianlah meluncur terus gaya dan bentuk arsitektur, menyapu kota-kota besar hingga sampai pelosok desa, dan memang seakan-akan sedang mencari bentuk-bentuk arsitektur untuk bisa ditancapkan di atas bumi ini. Arsitek sendiri, berjalan dengan penuh keyakinan untuk diakui identitas dan hasil karyanya. Bersama itu pula, muncul gertakan untuk pemakaian atap joglo, agar lebih kelihatan ciri khas arsitektur tradisionil atau berkepribadian Indonesia. Arsitektur bukan bukan sekedar perwujudan fisik bangunan, arsitektur adalah bagian yang utama dan paling depan dari ruang, bukan bentuk dan fungsi. Bruno Zevi (1957) mengatakan: “Untuk mengerti, bagaimana kita melihat dan mengetahuinya, inilah salah satu kunci utama untuk mengerti dan memahami suatu bangunan”. Kemungkinan perkembangan arsitektur di Indonesia bisa menjelaskan gejala yang timbul saat ini, barangkali inilah yang disebutkan oleh kalangan arsitek sebagai gejala ke barat-baratan atau corak lain untuk para arsitek kita yang lepas landas, menuju arsitektur masa kini. Pandangan yang sangat jauh terjadi mungkin karena arsitektur tradisonil kehilangan kesempatan untuk berkembang dan akhirnya sampai kebentuk arsitektur masa kini. Perkembangan corak arsitektur ini bukannya lenyap sama sekali namun terbatas pada perkembangan masyarakat sekelilingnya. 

Sebenarnya ada empat prinsip sebagai landasan mengembangkan arsitektur berkepribadian Indonesia yang moder menurut Prof. Ir. Sidharta, yaitu (1). Arsitektur Indonesia mencerminkan iklim tropis lembab; (2). Penggunaan bahan lokal; (3). Pemanfaatan adanya seni kerajinan di Indonesia; dan (4). Keanekaragaman budaya daerah harus selalu dikembangkan (Kompas 22 Agustus 1984). Karena semua sangat besar kaitannya dengan masyarakat, terkadang corak dan bentuk arsitektur masa kini seperti mencapai titik ideal. Siapapun tk akan bisa menyangkal, setelah semuanya berkembang dan memantulkan seluruh kehidupan masyarakat dan inilah barangkali yang selalu mempesona para arsitek. 

Pada sisi lain, perubahan memang berjalan lambat, tetapi setelah melalui masa datar, dengan tiba-tiba pengaruh arsitektur mutakir datang pula ke negeri ini, membawa nilai-nilai arsitektur tersendiri. Sebenarnya ada dua masalah pokok yang harus diperhatikan di dalam merencana dan merancang karya yang bernila arsitektur, ialah Guna dan Citra demikian kata seorang arsitek, kolumnis dan novelis YB. Mangunwijaya. Guna, mewujudkan pada keuntungan, pemanfaatan dan pelayanan yang dapat kita peroleh dari bangunan, sedangkan Citra, mewujudkan suatu gambaran (image) suatu kesan penghayatan yang menangkap arti bagi seseorang. Tetapi dapatkah gagasan ini terlaksana dengan sempurna, semua akan kembali kepada pribadi para arsitek lagi, memang sangat sulit. Kesulitan inilah yang harus selalu diatasi lewat komunikasi terus menerus dengan partisipasi penuh dari segenap lapisan masyarakat. 

Pada umumnya, masyarakat kita sudah terkena sindrom akan mode-mode gothic, barok, rococo, korintian dan bentuk-bentuk klasik lainnya. Hampir keseluruhannya berasal dari daratan Eropa, tidak heran kalau rumah-rumah tinggal menampilkan jendela lengkung dengan kolom korintian, ibarat istana kecil di tengah perkampungan. Tidak hanya rumah tinggal saja, pusat perbelanjaan, hotel, pusat rekreasi dan sebagainya, terkena juga irama mode tersebut. 

Perkembangan semakin pesat baik pertambahan penduduk, teknologi maupun hasil karya arsitektur, sudah melampaui batas-batas nilai martabat manusia. Mungkin hanya wujud fisik bangunan yang akan membeberkan fakta dari hasil kerja para arsitek, yang berangkat dari berbagai ragam pandangan, dan akhirnya akan membawa kita kepada keadaan yang serba asing sesuai jamannya, tempat arsitek berpijak dan dialah yang akan memulainya. Asitektur adalah bukan produk dari material, demikian juga bukan masalah sosial tetapi merupakan penjiwaan dari suatu perubahan jaman, demikan Nikolaus Pevsner (An Outline of European Architecture, 1960). Di sini bukan berarti perkembangan arsitektur selalu bebas tanpa batas yang jelas, sekali lagi arsitektur adalah pemecahan masalah bukan menambah permasalahan.Saya tidak akan menyalahkan penjiplakan dari karya-karya itu menyalahi aturan, tetapi kecenderungan yang membawa hal-hal kenikmatan pribadi arsitek hendaknya dihalau, moral untuk mencegah dan menghadapi sindrom tersebut di atas harus segera ditegakkan. Sebab perjalanan kebudayaan adalah juga perjalanan masyarakat dan arsitekturnya, sedangkan sejarah yang akan mencatatnya. 

Tulisan di ini telah dimuat dalam Majalah PROPORSI Edisi No. 5 Tahun 1985