Welcome To My Imajination

Selamat Datang di Dunia 3Dimensi
Terima Kasih Sudah Berkunjung Saya berharap Blog ini bisa tampil lebih baik lagi tentunya harapan itu merupakan harapan kita semua.. karna itu saya butuh Masukan, Kritikan dan Saran dari teman-teman semua untuk memaksimalkan isi blog ini, sekali lagi Selamat Berkunjung semoga blog ini bermanfaat bagi anda...
@ Creat: By Abank.

Jumat, 30 November 2012

GARASI

Rumah Adat Sunda

 
November 30th, 2012
Indonesia tanah air yang kaya akan budaya dan sampai juga akhirnya kita ke tanah Sunda. Kali ini mari kita membahas rumah adat Sunda atau rumah tradisional suku Sunda yang mempunyai nama Imah. Suku Sunda sendiri merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia setelah suku jawa. Suku Sunda adalah etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa. Rumah adat Sunda pada umumnya mempunyai kolong dengan ketinggian 50 cm – 1 m  diatas permukaan tanah. Kalau rumah adat Sunda yang berumur cukup tua mempunyai kolong dengan ketinggian bisa mencapai 1,8 M. Biasanya Kolong rumah di gunakan untuk menyimpan peralatan bertani dan kandang binatang ternak. Kolong rumah tersebut mempunyai nama kolong Imah dan untuk masuk kedalam rumah terdapat tangga yang di beri nama Golodog.
Rumah adat Sunda sebagian besar terbuat dari kayu atau bambu, Rumah adat Sunda itu sendiri memiliki nama yang bermacam-macam jenis sesuai dengan bentuk atap dan pintu rumahnya.
  • Suhunan Jolopong
  • Tagong Anjing
  • Badak Heuay
  • Perahu Kemureb
  • Jubleg Nangkub
  • Buka Pongpok
Yang paling gampang ditemui adalah Rumah Adat Sunda berbentuk Suhunan Jolopong karena bentuknya yang paling sederhana, Rumah adat bentuk atau jenis  Suhunan Jolopong banyak dijumpai di daerah-daerah cagar budaya atau di desa-desa jawa barat. Ruangan rumah adat suku Sunda terbagi menjadi tiga bagian. bagian depan, tengah dan belakang. Rangkay Imah sebutan kerangka dari unsur pokok elemen rumah, elemen itu terdiri dari bagian atas yaitu atap disebut dengan istilah hateup, dan susuhunan atau bubungan. Hateup pada rumah tradisional sunda terbuat dari bahan ijuk atau daun kawung (enau). Seluruh bagian dari rumah berdinding batang bambu yang dibelah. Dinding untuk sekat pada bilik-bilik di dalam rumah terbuat dari anyaman bambu yang disebut dengan giribig dan lantai terbuat dari papan kayu. Bangunan rumah adat Sunda menggunakan sistem paseuk / pasak (terbuat dari bambu) atau dengan tali terbuat dari ijuk ataupun sabut kelapa yang di pilin. Ruangan bagian depan disebut dengan tepas, emper, sosoro atau beranda. Berfungsi untuk menerima tamu dan untuk bersantai di lua. Bagi masyarakat Sunda yang memiliki tanah cukup luas, biasanya mereka membangun sebuah bangunan berupa kamar khusus untuk tamu yang sejajar dengan beranda. Ruang dibagian tengah rumah disebut Tengah Imah. Pada bagian ini, terdapat pangkéng sebutan kamar tidur dan jumlah kamar tidur dibuat sesuai jumlah anggota keluarga dan ukuran tiap kamar disesuaikan dengan luas rumah. Ruang tidur orang tua, anak laki-laki dan perempuan terpisah. Terdapat pula ruang keluarga tempat berkumpulnya keluarga. Bagian belakang rumah disebut juga Tukang Imah. Terdapat dapur dan ruang goah. Dapur berfungsi sebagai ruangan untuk memasak. Ruang Goah adalah ruangan dekat dengan dapur yang berfungsi untuk menyimpan bahan makanan, bumbu-bumbu masak, perabot-perabot dapur dan padaringan. Padaringan adalah gentong terbuat dari tanah liat yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan beras. Hanya kaum perempuan yang boleh memasuki dapur dan ruang goa. Bagian belakang luar rumah dibangun sumur sebagai sumber air. Tersedia pula tempat jemuran dan pancuran air. Tradisi Sunda memandang tabu kaum laki-laki bila masuk ke dapur, dan itu dianggap tidak baik. Ruangan belakang ini suka dijadikan tempat menerima tamu perempuan. Sedangkan bagian beranda rumah, dikhususkan untuk menerima tamu laki-laki. Leuit adalah bangunan tempat menyimpan hasil bumi. Biasanya digunakan sebagai lumbung padi. Dibangun terpisah dari rumah. Saung Lisung adalah bangunan untuk masyarakat umum dan disediakan oleh masyarakat sekitar. Berfungsi sebagai tempat warga menumbuk padi ramai-ramai secara gotong royang dan penuh kebersamaan. Kegiatan menumbuk padi ini, di sebagian masyarakat Sunda disertai dengan nyanyian dan iringan ketukan lisung dan halu saling bersahutan. Nilai filosofis yang terkandung didalam arsitektur rumah tradisional Sunda secara umum, nama suhunan rumah adat orang Sunda ditujukan untuk menghormati alam sekelilingnya. Ditilik dari material rumah adat Sunda itu sendiri terkesan tipis dan ringkih tentu hal ini tidak mungkin dipakai untuk tempat perlindungan layaknya sebuah benteng perlindungan dari peperangan antar kampung, jadi masyarakat suku Sunda sangat menjunjung tinggi perdamaian dan kerukunan antar umat manusia. Rumah bagi orang Sunda semata sebagai tempat perlindungan dari hujan, angin, terik matahari dan binatang.

Jumat, 02 November 2012

Peran Arsitektur Tingkatkan Kuantitas dan Kualitas Wisatawan | Suara Pembaruan


Peran Arsitektur Tingkatkan Kuantitas dan Kualitas Wisatawan
Selasa, 30 Oktober 2012 | 9:53
Menparekraf Mari Pangestu saat membuka the 15th Asian Congress of Architect di Nusa Dua, Bali. [istimewa] Menparekraf Mari Pangestu saat membuka the 15th Asian Congress of Architect di Nusa Dua, Bali. [istimewa] 

[JAKARTA] Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Pangestu menyatakan pentingnya peran arsitektur dalam berbagai aspek kehidupan. Selain menjadi bukti untuk menelusuri perjalanan sejarah dan modal pengembangan karakter bangsa, karya arsitektur juga melambangkan kreativitas yang merupakan suatu perpaduan dari seni, budaya dan teknologi. 

“Kemenparekraf akan mendorong upaya pelestarian bangunan bersejarah, termasuk menjaga langgam arsitektur tradisional, kearifan lokal dan cara hidup masyarakat di masa lampau. Kita akan mengedepankan pendekatan fisik dan nonfisik,” papar Mari Pangestu saat membuka the 15th Asian Congress of Architect di Nusa Dua, Bali (29/10). 

Untuk pendekatan fisik misalnya membuat disain yang  kontemporer dengan tetap menjaga nilai-nilai tadisional,  penggunaan material lokal, perencanaan dan disain. Sementara untuk nonfisik misalnya melalui penciptaan even dan merumuskan kebijakan ruang publik Mari menambahkan, dengan meningkatnya jumlah kelas menengah khususnya di Indonesia, kebutuhan untuk berwisata, berekreasi, dan menghasilkan suatu karya kreatif telah menjadi sebuah gaya hidup.  

Melalui perencanaan dan disain yang baik, karya arsitektur dapat mengukuhkan suatu lokasi menjadi daya tarik wisata. Kemenparekraf akan mengembangkan 16 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan beberapa zona kreatif. Ide kreatif dari para arsitek diharapkan mampu mengangkat tempat-tempat tersebut menjadi daya tarik wisata yang berdaya saing internasional. Kemenparekraf menargetkan 10 juta wisatawan mancanegara datang ke Indonesia pada 2014. 

Untuk wisatawan nusantara targetnya adalah 255 juta perjalanan dengan pengeluaran Rp191,5 triliun. “Kita berharap arsitektur dapat berperan disini karena wisatawan dalam memutuskan untuk datang ke Indonesia pasti akan memperhatikan kualitas hotel, resor, museum, dan galeri, termasuk unsur estetikanya. Dengan karya arsitektur yang dapat memenuhi ekspektasi mereka, maka diharapkan bukan hanya kuantitas, tapi juga kualitas wisatawan yang datang akan meningkat,” kata Mari Pangestu. 

Dalam pemaparannya Mari Pangestu menyebutkan bahwa sesuai dengan visi Kemenparekraf, arsitektur yang menjadi salah satu subsektor dari ekonomi kreatif akan diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan memberikan nilai tambah. Untuk mencapai tujuan tersebut ada tiga nilai yang akan dijadikan pedoman. 

Pertama
, mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan tetap memperhatikan kondisi sosial dan budaya. Kemenparekraf akan mendukung berkembangnya arsitektur yang memperhatikan kearifan lokal dan budaya. Kedua, memperhatikan keseimbangan antara lingkungan dan nilai budaya dan sosial sebagai inspirasi bagi insan kreatif. 

Kemenparekraf akan mendukung pengembangan karya arsitektur yang memperhatikan kondisi alam dan lingkungan di Indonesia misalnya dengan disain yang mampu beradaptasi dengan ancaman banjir dan gempa bumi. Ketiga, mengedepankan konservasi lingkungan melalui karya arsitektur yang mengembangkan konsep arsitektur hijau (green architect), ramah lingkungan dan efisien. 

Bagi ekonomi kreatif, kontribusi arsitektur sebagai salah satu dari 15 industri kreatif yang akan diklola oleh Pemerintah, menunjukkan statistik yang menarik. Nilai tambah yang dihasilkan tahun 2010 mencapai Rp19,9 triliun, sekitar 4,2% dari total industri kreatif. Dengan pertumbuhan 6,8%, kenaikan arsitektur merupakan tertinggi ke-4 dibandingkan seluruh industri kreatif. 

Sektor ini tercatat menyerap 36.659 tenaga kerja, juga tumbuh tertinggi dibanding sektor lain sebesar 17%. Tidak hanya disitu, produktivitas tenaga kerja sektor arsitektur, yaitu nilai tambah yang dihasilkan perpekerja pertahun, juga menunjukkan angka tertinggi dibanding sektor lain, yakni sebesar Rp182,3 juta. Tahun 2014, Kemenparekraf menargetkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB mencapai 7,5%, dan khusus subsektor arsitektur diharapkan mampu tumbuh 9%. Untuk mendorong pertumbuhan tersebut pengembangan ruang publik, pelestarian bangunan bersejarah, membangun jejaring antararsitek, dan meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap karya arsitektur menjadi hal yang penting. [PR/H-15]


GARASI

Senin, 08 Oktober 2012

GARASI

MENGHITUNG KEBUTUHAN MATERIAL KOLOM DAN UPAH PEKERJAAN KOLOM

Kolom merupakan elemen vertical struktur kerangka yang berfungsi untuk menyanggah beban utama yang berada diatasnya dan meneruskan beban-bebannya ke bagian pondasi. Mencari kebutuhan material kolom hampir sama perhitungannya dengan kebutuhan material beton lainnya. Ketinggian kolom diukur dari permukaan sloof sampai pada bawah ringbalk, yaitu 3,5 meter.  Penghitungan kolom dapat kita lihat pada contoh perhitungan di bawah ini
Tinggi kolom = 3,5 meter
Jumlah kolom = 40 buah
Panjang total kolom = 40 buah x 3,5 meter = 140 meter
Volume kolom = 0,15 x 0,15 x 140 = 3,15 m3
 
A.   Beton Campuran Dengan  Mutu K 150
Sudah di bahas sebelumnya untuk mutu beton ada beberapa macam jenis, yaitu mulai dari mutu beton B0, K100, K 125, K 150, K175, K 225, K 300. Contoh dalam penggunaan mutu beton dalam tulisan ini diambil K 150 alasannya untuk mendapatkan mutu beton K 150 ini pembuatan dengan cara manual bisa terpenuhi kualitasnya. Sedangakan untuk mutu beton yang lain tersebut itu memerlukan suatu pengawasan yang sangat ketat. Maka untuk mutu beton K 150 kebutuhan materialnya antara lain :

  

Perhitungan Kebutuhan Material
1.   Semen = 3,15 m3 x 299 kg = 941,85 kg ( pc 40 kg = 23,54 zak).
2.   Pasir = 3,15 m3 x 799 kg = 2516,85 kg (Bj = 1,6) = 1,6 m3
3.   Krikil = 3,15 m3 x 1017 kg = 3023,55 kg (Bj = 1,9)= 1,7 m3
           Perhitungan Kebutuhan Tenaga
1.   Pekerja = 3,15 m3 x 1,65 = 5,1975 OH
2.   Tukang = 3,15 m3 x 0,275 = 0,8 OH
3.    Kepala Tukang = 3,15 m3 x 0,03 = 0,094 OH
4.   Mandor = 3,15 m3 x 0,083 = 0,261 OH

B.  Perhitungan Pembesian Dengan Menggunakan Besi Polos
Perhitungan Kebutuhan Material
1.   Tulangan pokok 4 d 10.
a)  Pajang total kolom 140 meter
b)  Besi beton yang diperlukan adalah 4 buah x 140 meter = 560 m /12 m = 46,66 batang atau 47 batang x 7,4 kg = 347,8 kg.
2.   Tulangan begel/pembagi d 8 – 15
a)  Panjang Total 140 meter
b)  Jumlah begel yg diperlukan 140/0,15 = 933,3 buah.
c)  Panjang 1 buahh besi begel = {(4x15)}-{(2x2)+(2x2)}+5cm = 57 cm.
Angka 15 cm adalah lebar/panjang, 2 cm selimut beton atas bawah kiri kanan, 5 cm pembengkokan ujung.
d)  Total kebutuhan panjang besi untuk begel = 933,3  buah x 0,57 m = 531,981 = 532 meter/12 = 44,33 batang x 4,74 kg = 210,1 = 210 kg.
e)  Total kebutuhan besi beton untuk membuat kolom sepanjang 140 meter = 347,8 kg + 210 kg = 558 kg Kebutuhan kawat bindrat 10% dari berat besi beton = 5,58 kg = 6 kg.

Perhitungan Kebutuhan Tenaga
1.   Pekerja = 558 kg x 0,007 = 3,906 OH.
2.   Tukang = 558 kg x 0,0007 = 0,3906 OH
3.   Kep.Tukang = 558 kg x 0,00007 = 0,03906 OH
4.   Mandor = 558 kg x 0,0004 = 0,22 OH

C.  Perhitungan Bekisting
Perhitungan Kebutuhan Material
Luas bekisting = (140 m x 0,15 m)x 2 = 42 m2
Pada perhitungan luas bekisting hanya dua sisi, karena dua sisi yang lainnya bekisting tidak dihitung karena ada pasangan bata, tetapi bila kolom utama untuk bangunan 2 lantai bekisting dihitung empat sisi.
1.   Papan 2/30 x 3 m = 42 x 1,7 lembar = 71,4 lembar = 71 lembar
2.   Paku 2”-5” = 42 x 0,3 kg = 12,6 kg
3.  Untuk material papan kebutuhan 71 lembar, tidak harus dipenuhi semua, melihat kondisi di lapangan, karena papan bekas bekisting sloof masih bisa dipergunakan, tetapi di dalam perhitungan anggaran kebutuhan papan tetap dimasukan.
Perhitungan Kebutuhan Tenaga
1.   Pekerja = 42 m2 x 0,52 OH = 21,84 OH
2.   Tukang = 42 m2 x 0,26 OH = 10,96 OH
3.   Kep.Tukang = 42 m2 x 0,026 OH = 1,092 OH
4.   Mandor = 42 m2 x 0,026 OH = 1,092 OH
 
TOTAL KEBUTUHAN UNTUK MEMBUAT KOLOM SEPANJANG 140 METER  
1.   Material :
a)  PC (semen 40 kg/zak) = 23,54 zak
b)  Pasir = 1,6 m3
c)  Split (krikil) = 1,7 m3
d)  Besi beton d 10 mm = 46,66 batang = 47 batang
e)  Besi Beton d 8mm = 44,33 batang = 44 batang
f)   Kawat pengikat = 6 kg
g)  Papan 2/30 x 3m = 71 lembar
h)  Paku = 12,6 kg
2.   Upah
a)  Pekerja = 30,94 OH
b)  Tukang = 12,15 OH
c)  Kep.Tukang = 1,22 OH
d)  Mandor = 1,573 OH

Maka untuk setiap 1 m kolom dengan dimensi dan penulangan seperti gambar diatas  kebutuhan Material dan upah adalah
1. PC (semen 40 kg/zak) = 0,20 zak .
2. Pasir = 0,02 m3
3. Split (koral/krikil) = 0,02 m3
4. Besi beton d 10 mm = 0,333 batang
5. Besi Beton d 8 mm = 0,317 batang
6. Bindrat = 0,050 kg
7. Papan 2/30x3m = 0,51 lbr
8. Paku = 0,09 kg

Upah
1. Pekerja = 0,23 OH
2. Tukang = 0,09 OH
3. Kep.Tukang = 0,009 OH
4. Mandor = 0,0117 OH

Senin, 24 September 2012

Design Green Architecture

GARASI
Prinsip Prinsip konstruksi Rumah Tahan Gempa
Berdasarkan penyelidikan akibat gempa menunjukkan pentingnya 
denah bangunan yang sederhana dan elemen-elemen struktur penahan 
gaya horisontal yang simetris. Struktur seperti ini dapat menahan gaya 
gempa Iebih baik karena kurangnya efek torsi dan kekekuatannya yang 
lebih merata.

Bentuk suatu bangunan dalam suatu perencanaan “bangunan Tahan 
Gempa” pada dasarnya akan mempengaruhi hal hal sebagai berikut :
·         Tingkat kesulitan dalam perencanaan dan analisa
·         Perilaku bangunan saan dilanda gempa

Tingkat kesulitan dalam perencanaan, terutama bentuk bangunan yang 
tidak teratur ( tidak simetris ), memerlukan proses analisa dinamis dan 
sangat sulit menentukan perilaku bangunan disaat gempa mengguncang.

Struktur-struktur dengan bentuk yang sederhana dan simetris mempunyai
ketahanan yang paling baik terhadap gempa

2. Bahan bangunan harus seringan mungkin

Hal ini dikarenakan besarnya beban inersia gempa adalah sebanding 
dengan berat bahan bangunan.

Sebagai contoh penutup atap genteng diatas kuda-kuda kayu menghasilkan 
beban gempa horisontal sebesar 3 x beban gempa yang dihasilkan oleh 
penutup atap seng diatas kuda-kuda kayu. Sama halnya dengan pasangan 
dinding bata menghasiIkan beban gempa sebesar 15 x beban gempa yang 
dihasilkan oleh dinding kayu.  Di negara jepang yang terkenal dengan daerah 
gempa, mereka menggunakan material kertas dan bambu sebagai struktur 
utama, hal ini karena material tersebut mamiliki bobot yang cukup ringan
bila di bandingkan dengan material yang lainya.

3. Sistim konstruksi penahan beban harus memadai    

    3.1. Ssistem konstruksi pondasi
Struktur pondasi berperanan penting untuk memindahkan beban gempa 
dari dinding ke 
tanah. Sangat sederhana membuat fondasi rumah, namun fondasi yang 
kuat memerlukan pengetahuan yang cukup sehingga fondasi bangunan 
yang baik haruslah kokoh menyokong beban dan tahan terhadap perubahan 
termasuk getaran.

 
pondasi harus dapat menahan dan menyalurkan gaya tarik vertikal dan 
gaya tekan dari dinding. Pondasi memindahkan gaya-gaya datar tersebut
ke pada tanah yang ditahan oleh daya dukung tanah dan tekanan tanah
lateral.

Pondasi disini menggunakan pondasi batu kali setempat, yaitu pada sudut 
sudut bangunan sebagai tempat menumpunua srtuktur atap dan srtuktur 
bangunan yang lain. Penempatan pondasi.

seperti ini bertujuan agar ketika terjadi goncangan dan perbedaan kekuatan 
tanah yang mendukung  maka pondasi tersebut akan bergerak mandiri, 
tidak akan saling mempengaruhi antara pondasi yang satu dengan yang 
lainya yang akan mengakibatkan patahan pada struktur pondasi. Penempatan 
fondasi juga perlu diperhatikan kondisi batuan dasarnya.Pada dasarnya 
fondasi yang baik adalah seimbang atau simetris.

3.2. Sistem Konstruksi Dinding

Konstruksi dinding rumah tahan gempa ini tidak menggunakan material 
batu bata tetapi menggunakan material kayu. Material kayu adalah material 
yang cukup  tepat digunakan untuk konstruksi kerangka dinding, selain lebih 
ringan dan mudah dalam pemasangan kayu juga memiliki tingkat elastisitas 
yang cukup tinggi, sehingga sangat baik digunakan untuk konstruksi rumah
tahan gempa. Kayu yang digunakan adalah kayu kayu yang banyak dipasaran 
misalnya ukuran 6/12, 8/15.

Untuk penutup dinding menggunakan bilik dilapisi dengan multiplek agar 
angin tidak masuk kedalam ruangan, sedangkan untuk penutup dinding 
daerah basah dan dapur menggunakan teknologi beton, yang kemudian 
dilapisi oleh keramik. Kemungkinan lain untuk memperkaku dinding adalah 
sistim diafragma dengan menggunakan plywood, particle board atau 
sejenisnya, atau pengaku diagonal kayu untuk dinding bilik. Selain itu untuk
Sistem cross bracing (perkuatan silang) untuk dinding dan konstruksi panggung 
dibawah rumah berfungsi untuk memperkuat dan memperkokoh bangunan 
pada bangunan kayu.

Untuk memenuhi persyaratan keawetan kayu, maka kayu yang digunakan 
harus kayu kualitas 1 yang tahan terhadap iklim, sudah cukup umur, sudah 
direndam serta sudah di lapisi cairan anti rayap.

3.3. Sistem Konstruksi Atap
Berikut ini adalah beberapa fungsi atap yang lebih khusus (spesifik):
·         menerima beban oleh bobot sendiri, yaitu beban kuda-kuda dan bahan 
pelapis berarah vertikal kemudian meneruskannya pada kolom dan pondasi
·         menahan tekanan angin muatan yang berarah horizontal pada gevel
·         menerima panas oleh sinar matahari dan menahan suhu agar tetap 
dingin di ruang bawah  atap dan menyerap panas tersebut hal ini terdapat 
pada konsep dalamkonsep arsitektur tropis
·         menghindari masuknya air hujan


Pada konstruksi atap rumah tahan Gempa, Kuda-kuda menggunakan 
material kayu dengan penutup atap menggunakan genteng metal yang 
cukup ringan. Untuk memperkuat hubungan antara batang dan menjaga 
stabilitasnya, maka Konstruksi kuda kuda yang dipergunakan adalah 
konstruksi kuda kuda dengan bentuk segitiga yang menerus hingga 
menumpu pada pondasi. Bentuk tersebut sangat cocok ditempatkan 
di lahan gempa,

Mengapa menerus sampai pondasi? Hal ini bertujuan agar bentukan 
rumah memiliki bentuk segitiga seutuhnya tanpa ada bidang Vertikan 
yang  memungkinkan terjadinya gaya torsi yang lebih besar jika terjadi 
gempa. Selain itu konstruksi atap tidak membebani konstruksi dinding 
yang ada di bawahnya karena tumpuan atap langsung menumpu pada 
pondasi setempat.

Segitiga merupakan bentuk yang sangat stabil.  Bidang Vertikal seperti 
dinding dan kolom berada di dalam bidang segi tiga yang berfungsi 
memperkuat konstruksi kuda kuda tersebut.  Beberapa aspek yang 
perlu diperhatikan adalah sambungan antar batang horisontal jangan 
terletak pada titik buhul, hal ini untuk menghindari terjadinya lendutan, 
sambungan harus ditempatkan antara sambungan tarik dan sambungan 
tekan.

3.4. Sistem Konstruksi Lantai Panggung

Lantai panggung banyak mengadopsi dari konsep konsep rumah tradisional 
karena lantai panggung dinilai lebih kuat menahan gaya lateral yang 
ditimbulkan oleh pergerakan tanah,

Selain itu rumah panggung bertujuan untuk menjaga keawetan material, 
karena pada rumah panggung material kayu tidak kontak langsung 
dengan tanah, dan mencegah masuknya air ketika terjadi mujan deras 
dan banjir

Bila dikaitkan dengan rumah yang berwawasan lingkungan, maka rumah 
panggung berpotensi menjaga lahan hijau dan permukaan tanah sebagai 
daerah serapan air.



MATEMATIKA PADA UKIRAN RUMAH GADANG MINANGKABAU

GARASI


Pernahkah perhatikan bentuk rumah gadang Minangkabau? Bentuk rumah Gadang Minangkabau yang khas, mempunyai jumlah gonjong yang ganjil, terbuat dari kayu yang dibagian luarnya di ukir dengan berbagai macam bentuk ukiran Minangkabau, menambah ciri khas dari Rumah Adat Sumatra Barat ini.

Ketika melihat rumah gadang Minangkabau yang terbayang rumah dengan artistic yang tinggi penuh dengan ukiran disekeliling dindingnya dan mempunyai nilai sejarah. Masing-masing ukiran mempunyai nama tersendiri dan mempunyai makna.

Falsafah atau pandangan hidup masyarakat adat Minangkabau adalah “adat basandi syarak syarak basandi kitabullah” (ABS-SBK) “syarak mangato, adat mamakai, alam takambang jadi guru”
Dalam hal ini akal dan budi, keluasan perasaan budi sangat berperan, “manusia tahan kieh, binatang tahan lacuik, kilek baliung alah ka kaki, kilek kaco alah kamuko, tagisia lah labiah bak kanai, tasinggung labiah bak jadi”. Pepatah tersebut menuntut kearifan dan kebijaksanaan manusia dalam berkata bertindak dan bekerja. Sehingga disebut pula dalam adat “nan bagarih babalabeh” sebagai hasil kearif bijaksanaan tersebut terukir dalam bentuk ukiran Minangkabau.
Adapun nama-nama ukiran yang terdapat di sekitar Rumah Gadang :
PADA LINGKUNGAN ANJUANG RUMAH
Jenis atau Ragam Ukiran :
1. Saluak Laka
2. Labah Mangirok
3. Kalalawa Bagayuik
4. Salimpat
5. Tatandu Manyasok Bungo
6. Itiak Pulang Patang
7. Tangguak Lamah
8. Lumuik Hanyuik
9. Pesong Aia Babuih
10. Tupai Managun
PADA BADAN RUMAH
Jenis atau Ragam Ukiran :
1. Pisang Sasikek
2. Aka Cino Sagagang Duo Gagang
3. Ukir Tirai
4. Sikambang Manih
5. Kudo Manyipak
6. Takuak Kudo Basipak
7. Saluak Laka
8. Salimpat
9. Aka Barayun
10. Kuciang Lalok
11. Pesong Aia Babuih
12. Saluak Laka
PADA TEMPAT-TEMPAT YANG UMUM LAINNYA
Jenis atau Ragam Ukiran :
1. Tantadu Manyasok Bungo
2. Itiak Pulang Patang
3. Aka Barayun
4. Aka Duo Gagang
5. Lapiah Batang Jarami
6. Tupai Managun
7. Kalalawa Bagayuik
8. Siku Kalalawa
9. Bada Mudiak
10. Buah Palo Bapatah
11. Bungo Mangarang Buah
12. Paruah Anggang
13. Jalo Takaka/Taserak
14. Kaluak Paku
15. Aka Cino
16. Saik Galamai
17. Kuciang Lalok
18. Lumuik Hanyuik
19. Pucuak Rabuang
20. Tampuak Manggih
21. Labah Mangirok
22. Lumuik Hanyuik/Aka Barayun
23. Alang Babega
24. Itiak Pulang Patang
25. Daun Bodi
26. Aka Cino
27. Sajamba Makan
28. Carano Kanso
29. Siriah Gadang
Pernahkah kita perhatikan ada matematika pada setiap ukiran ini???
Susunan dan keteraturan setiap motif ukiran pada dinding rumah Gadang mengisyaratkan bahwa masyarakat Minangkabau sejak dahulu kala telah mengenal matematika. Bentuk ukiran yang bermacam-macam merupakan gabungan dari berbagai macam bangun datar
Misalnya :
Ukiran kaluak Paku, jika diperhatikan susunannya berasal dari lingkaran yang disusun yang secara sistematis.
Ukiran Saik Galamai, jika diperhatikan susunannya berasal dari belah ketupat yang dirangkai
Jika diamati lagi, rancangan pertama pada setiap ukiran ini merupakan gabungan dari bangun datar yang ditarik garik lurus. Sudut pada setiap model ukiran juga diperhatikan dengan ukuran yang sama.
Ini merupakan bukti sejarah bahwa masyarakat Minangkabau sejak dahulu kala telah mengenal susunan yang teratur sebagai bentuk aplikasi dari Matematika. Dari sebuah ukiran saja telah banyak materi matematika yang terkait diantaranya bangun datar, garis, sudut serta barisan dan deret sebagai bentuk keteraturan pola.
Ayoo teman-teman silahkan gali lagi budaya lokal yang mengandung unsur matematika.