Welcome To My Imajination

Selamat Datang di Dunia 3Dimensi
Terima Kasih Sudah Berkunjung Saya berharap Blog ini bisa tampil lebih baik lagi tentunya harapan itu merupakan harapan kita semua.. karna itu saya butuh Masukan, Kritikan dan Saran dari teman-teman semua untuk memaksimalkan isi blog ini, sekali lagi Selamat Berkunjung semoga blog ini bermanfaat bagi anda...
@ Creat: By Abank.

Rabu, 18 September 2013

TEORI LINKAGE

GARASI

TEORI LINKAGE


Linkage artinya berupa garis semu yang menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lain, nodes yang satu dengan nodes yang lain, atau distrik yang satu dengan yang lain. Garis ini bisa berbentuk jaringan jalan, jalur pedestrian, ruang terbuka yang berbentuk segaris dan sebagainya. Teorilinkage melibatkan pengorganisasian garis penghubung yang menghubungkan bagian-bagian kota dan disain “spatial datum” dari garis bangunan kepada ruang. Spatial datum dapat berupa: site line, arah pergerakan, aksis, maupun tepian bangunan (building edge). Yang secara bersama-sama membentuk suatu sistem linkage dalam sebuah lingkungan spasial. Sebuah linkage perkotaan dapat diamati dengan cara dan pendekatan yang berbeda, terdapat 3 pendekatanlinkage perkotaan:
  1. Linkage yang visual,
  2. Linkage yang struktural,
  3. Linkage bentuk yang kolektif.


1. Linkage Visual
Dalam linkage yang visual dua atau lebih fragmen kota dihubungkan menjadi satu kesatuan yang secara visual, mampu menyatukan daerah kota dalam berbagai skala. Pada dasarnya ada 2 pokok perbedaan antara linkage visual, yaitu:
  • Yang menghubungkan dua daerah secara netral,
  • Yang menghubungkan dua daerah, dengan mengutamakan satu daerah

Gambar diatas merupakan gambar dari Las Vegas, yang memiliki linkagepenghubung yang bersifat kaitan saja (netral). Hal ini banyak kita jumpai di kota-kota Italia, Amsterdam, Washington, Jaipur, Yogyakarta


Gambar diatas merupakan gambar dari Arc De Triumph – Paris, linkage yang bersifat fokus untuk memusatkan suatu kawasan, serta memiliki fungsi dan arti khusus dalam kota karena bersifat dominan dan menonjol daripada lingkungannyaLima elemen linkage visual, merupakan elemen yang memiliki ciri khas dan suasana tertentu yang mampung menghasilkan hubungan secara visual, terdiri dari:
  1. Garis: menghubungkan secara langsung dua tempat dengan satu deretan massa (bangunan atau pohon).
  2. Koridor: dibentuk oleh dua deretan massa (bangunan atau pohon) yang membentuk sebuah ruang.
  3. Sisi: menghubungkan dua kawasan dengan satu massa. Mirip dengan elemen garus namun sisi bersifat tidak langsung.
  4. Sumbu: mirip dengan elemen koridor , namun dalam menghubungkan dua daerah lebih mengutamakan salah satu daerah saja.
  5. Irama: menghubungkan dua tempat dengan variasi massa dan ruang

La Rambla – Barcelona, merupakan koridor yang menghubungkan pusat kota dengan laut (patung Columbus). Dibentuk dari deretan bangunan serta deretan pohon sebagai linkage visual kota.

2. Linkage Struktur
Menggabungkan dua atau lebih bentuk struktur kota menjadi satu kesatuan tatanan. Menyatukan kawasan kawasan kota melalui bentuk jaringan struktural yang lebih dikenal dengan sistem kolase (collage). Tidak setiap kawasan memiliki arti struktural yang sama dalam kota, sehingga caramenghubungkannya secara hierarkis juga dapat berbeda.

Gambar diatas merupakan gambar dari kota Manhattan – New York, dimana kita dapat melihat sistem grid yang sangat kuat dalam penataannya.Namun secara struktural kawasan ini kurang jelas sehingga menyebabkan orang merasa tersesat tanpa adanya hierarki yang memberikan stabilitasdengan menghubungkan kawasan satu dengan lainnya.
Fungsi linkage struktural di dalam kota adalah sebagai stabilisatordan koordinator di dalam lingkungannya, karena setiap kolase perlu diberikan stabilitas tertentu serta distabilisasikan lingkungannya. Hal ini dapat dilakukan dengan memprioritaskan sebuah daerah yang menjelaskan lingkungannya dengan suatu struktur, bentuk, wujud, atau fungsi yangmemberikan susunan tertentu didalam prioritas penataan kawasan.
Ada tiga elemen linkage struktural yang mencapai hubungan secara arsitektural, yaitu:
  1. Tambahan: melanjutkan pola pembangunan yang sudah ada sebelumnya.
  2. Sambungan: memperkenalkan pola baru pada lingkungan kawasan.
  3. Tembusan: terdapat dua atau lebih pola yang sudah ada di sekitarnya dan akan disatukan sebagai pola-pola yang sekaligus menembus didalam suatu kawasan


Market Street – San Francisco adalah merupakan sebuah jalan yang berfungsi sebagai linkage struktural. Dimana jalan ini mampu sebagai penghubung yang memadukan antara dua tipe grid yang berbeda, mampu sebagai stabilisator atau penye
imbangan untuk membentuk sebuah struktur lingkungan.
3. Linkage sebagai Bentuk Kolektif.
Teori linkage memperhatikan susunan dari hubungan bagian-bagian kota satu dengan lainnya. Dalam teori linkage, sirkulasi merupakan penekanan pada hubungan pergerakan yang merupakan kontribusi yang sangat penting. Linkage memperhatikan dan mempertegaskan hubungan-hubungan dan pergerakan-pergerakan (dinamika) sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric)
Menurut Fumuhiko Maki, Linkage adalah semacam perekat kota yang sederhana, suatu bentuk upaya untuk mempersatukan seluruh tingkatan kegiatan yang menghasilkan bentuk fisik suatu kota. Teori ini terbagi menjadi 3 tipe linkage urban space yaitu:
  1. Compositional form: bentuk ini tercipta dari bangunan yang berdiri sendiri secara 2 dimensi. Dalam tipe ini hubungan ruang jelas walaupun tidak secara langsung
  2. Mega form: susunan-susunan yang dihubungkan ke sebuah kerangka berbentuk garis lurus dan hirarkis.
  3. Group form: bentuk ini berupa akumulasi tambahan struktur pada sepanjang ruang terbuka. Kota-kota tua dan bersejarah serta daerah pedesaan menerapkan pola in



Gambar diatas adalah gambar super blok karya Le Corbusier, yang merupakan contoh dari compositional form, dimana bangunan yang ada menciptakanlinkage sebuah ruang berdasarkan susunan secara 2 dimensi. Hal ini juga banyak ditemukan pada kota Chandigard – India, yang merupakan kawasan yang dirancang oleh Le Corbusier


Gambar diatas merupakan gambar kota New – Brasilia, yang merupakan contoh dari mega form. Menghubungkan struktur-struktur seperti bingkai yang linier atau sebagai grid. Adanya penghubung berupa garis lengkung (warna ungu) yang menghubungkan kota secara makro


Gambar diatas adalah gambar kawasan Bern – Swiss, yang merupakan contoh dari group form pada sepanjang ruang terbuka berupa garden dan sungai. Bern adalah ibu kota dari swiss ini merupakan kota tua dan bersejarah di swiss. Kota historis Bern adalah sebuah warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1983

tulisan ini bersumber dari:
book "Finding Lost Space" by: Roger Trancik
buku "Perancangan Kota Terpadu" oleh: Markus Zahnd

Rabu, 12 Desember 2012

Mengenal mutu beton dan beton bertulang serta penggunaannya

GARASI



Mutu tinggi
____________________________________________
fc’35 – fc’65 MPa setara K400 – K800 kg/cm2
Umumnya digunakan untuk beton prategang seperti tiang pancang beton prategang, gelagar beton prategang, pelat beton prategang dan sejenisnya.
 
Mutu sedang
____________________________________________
fc’20 – fc’35 MPa setara K250 – K400 ( kg/cm2 )
Umumnya digunakan untuk beton bertulang seperti pelat lantai jembatan, gelagar beton bertulang, diafragma, kerb beton pracetak, gorong-gorong beton bertulang, bangunan bawah jembatan.
 
Mutu rendah
____________________________________________
fc’15 – fc’20 MPa setara K175 – K250 kg/cm2

Umumya digunakan untuk struktur beton tanpa tulangan seperti beton siklop, trotoar dan pasangan batu kosong yang diisi adukan, pasangan batu.
 
Mutu rendah
____________________________________________
fc’10 – fc’15 MPa setara K125 – K175 kg/cm2

Di gunakan sebagai lantai kerja, penimbunan kembali dengan beton



Semoga Bermanfaat..!

TABEL LUAS TULANGAN

GARASI

  • Tulangan Balok dan Kolom (mm2)

  • Tulangan Pelat (mm2 per meter)

TABEL BERAT TULANGAN PER METER


SIFAT MEKANIS BAJA TULANGAN
REFERENSI:
PUBI-1982 (Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia)


Detail Standart Penulangan Beton Untuk Gedung

GARASI

Standar ini merupakan detail dan pendetilan penulangan beton untuk bangunan gedung yang meliputi Toleransi, Gambar Kombinasi, Kait dan Bengkokan, Balok dan Balok Induk, Kolom, Panjang Penyaluran dan Sambungan Tulangan, Detail Sambungan, Penumpu Tulangan, Detail Rangka Portal, Join, Dinding, Diafragma dan Plat beton, Tata Cara Pabrikasi, Penumpu Tulangan, Pemasangan Tulangan Berdasarkan Ukuran/Jarak.




Semoga bermanfaat...!

Konsep design bangunan tahan gempa secara struktural

GARASI

Dalam merancang bangunan tahan gempa ada tiga hal penting yang harus dilakukan :

  • Tersusun dengan baik
  • Dirancang dengan baik
  • Dibangun dengan baik
Ketiga unsur diatas amatlah penting. Jika susunan gedung tidak tepat maka beban terhadap struktur akan meningkat. Hal ini akan menumbulkan kelemahan kualitas struktur bangunan.
 
Rancangan gedung dengan konsep struktur simetri
  • Elemen-elemen penahan beban seismis sebaiknya disusun secara simetris.
  • Pentingnya susunan yang simetris berbanding lurus dengan tingginya gedung. 
  • Elemen yang penting untuk menahan beban seismis ( contoh: tembok, kerangka struktur beton / baja ) sebaiknya disebar secara simetris dan teratur menghadap ke dua arah dasar gedung.
  • Tembok dan kerangka sebaiknya dipasang di batas pinggir bangunan. Jika semua elemen tersebut dipusatkan pada satu lokasi, maka elemen-elemen tersebut akan mengakibatkan puntiran pada bangunan; dan puntiran ini bisa mengakibatkan runtuhnya gedung. 
  • Konsep rancangan simetri sebaiknya diupayakan pada kedua arah orthogonal. Ketika membangun gedung berbentuk “L”, “H” atau “U”, rancangan denah gedung sebaiknya dibuat dengan rasio panjang-lebar kurang dari 1 banding 3. Jika ini tak memungkinkan karena adanya tuntutan design arsitektur, maka sebaiknya sayap gedung dijadikan bangunan terpisah secara struktural ( melakukan dilatasi = pemisahan  bangunan secara struktural )
  • Asimetri vertical juga sangat penting untuk dihindari jika membangun gedung lebihtinggi dari satu lantai. Elemen penahan beban lateral utama harus tersusun secara konsisten dari bawah sampai atas gedung. Hindarilah perubahan berat jenis diantara lantai ( perbedaannya sebaiknya dibawah 50% ), dan juga hindarilah perubahan kekakuan lateral.
 
Pemisahan bangunan ini hanya terjadi pada bagian struktur bangunan, sehingga saat terjadi gempa distribusi tekanan tidak akan mempengaruhi bagian bangunan lainnya


Contoh terjadinya kerusakan akibat gempa pada bagian pertemuan bangunan bila design dilakukan tanpa pemisahan struktur / dilatasi

Pertimbangan Lain dalam Merancang Bangunan
Daya tahan terhadap gempa bukanlah satu-satunya hal yang harus dipertimbangkan oleh seorang  perancang bangunan. Hal-hal dibawah ini juga harus dipertimbangkan. 
  1. Defleksi, termasuk defleksi yang diakibatkan pergantian suhu dan gerakan gerakan lain. 
  2. Daya tahan terhadap api; perlindungan terhadap petir. 
  3. Daya Tahan terhadap cuaca; pengendalian tingakt air permukaan. 
  4. Daya tahan (termasuk terhadap serangan serangga) / stabilitas bahan bangunan 
  5. Proses pembangunan dan kecepatan pembangunan. 
  6. Daya tahan bangunan terhadap waktu. 
  7. Rancangan khusus untuk daerah tropis. 
  8. Insulasi buat mengendalikan suhu; ventilasi, dan efisiensi energi. 
  9. Cahaya alami 
  10. system saluran pipa. 
  11. Keamanan, keleluasaan pribadi penghuni, insulasi akustik seiring dengan budaya, agama, dan tradisi local. 
  12. Estetika 
  13. Adanya bahan baku yang memadai. 
  14. Adanya tenaga buruh.

Terima kasih…!
Semoga bermanfaat..!